PAMNEWS.ID, BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) mempertegas komitmennya dalam memperkuat sistem kesehatan masyarakat dengan menghadirkan pakar kesehatan global ternama, Prof. Marcel Tanner, MPH. Tokoh dunia tersebut hadir sebagai pembicara utama dalam kuliah tamu bertajuk “Integrating Mental Health and Social-Wellbeing into Public Health Systems” yang diselenggarakan di Aula Gedung D Fakultas Kedokteran USK, Sabtu (28/3).
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian strategis peluncuran Pusat Riset Center for Mental Health and Social Well-being (CMHS) USK. Kehadiran Prof. Tanner, yang merupakan Board Member Fondation Botnar dan Director Emeritus dari Swiss Tropical and Public Health Institute (Swiss TPH), bertujuan untuk memberikan cakrawala baru bagi para peneliti dan praktisi kesehatan di Aceh mengenai standar global penanganan kesehatan mental.
Dalam paparannya di hadapan ratusan akademisi dan mahasiswa, Prof. Tanner menekankan bahwa kesehatan mental tidak boleh lagi dipandang sebagai isu sampingan atau sekadar pelengkap. Ia menegaskan bahwa kesejahteraan mental dan sosial harus diposisikan sebagai pilar utama yang terintegrasi secara utuh dan sistematis ke dalam struktur kesehatan masyarakat guna membangun ketangguhan komunitas yang berkelanjutan.
“Kesejahteraan masyarakat yang menyeluruh hanya dapat dicapai jika kita memiliki keberanian untuk menempatkan kesehatan mental di jantung kebijakan publik,” ujar Prof. Tanner. Ia menggarisbawahi bahwa pemisahan antara kesehatan fisik dan mental dalam kebijakan hanya akan menciptakan celah yang menghambat efektivitas layanan kesehatan di lapangan.
Lebih lanjut, Prof. Tanner memaparkan bahwa integrasi ini menuntut pendekatan yang tidak terisolasi. Kesejahteraan mental harus menjadi bagian integral dari strategi kesehatan publik guna menciptakan masyarakat yang tangguh secara holistik, terutama dalam menghadapi dinamika perubahan sosial dan tantangan urbanisasi yang kian kompleks.
Karena itu, kuliah tamu ini juga menjadi momentum penting bagi USK untuk menyelaraskan riset-riset lokal dengan standar internasional. Dengan wawasan global yang dibagikan, para peneliti di pusat riset CMHS diharapkan mampu mengembangkan strategi intervensi yang tidak hanya berbasis bukti (evidence-based), tetapi juga tetap memiliki relevansi kuat dengan akar budaya masyarakat Aceh.
Lebih lanjut, agenda ini bertujuan mendorong pengembangan solusi kesehatan mental yang relevan dengan konteks lokal namun tetap mengacu pada standar internasional. Sinergi antara teori akademis dan implementasi kebijakan menjadi fokus utama guna memastikan setiap riset yang dihasilkan oleh CMHS memiliki dampak nyata bagi masyarakat luas.
Agenda yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang melibatkan pimpinan universitas, delegasi internasional, serta para praktisi kesehatan. Melalui kegiatan ini, USK memantapkan langkahnya sebagai pusat keunggulan riset yang mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan akademis, kebijakan pemerintah, dan praktik nyata demi kesejahteraan sosial yang lebih baik.
